PERTENTANGAN SOSISAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

  1. PERTENTANGAN SOSISAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

Pertentangan sosial dan integrasi masyarakat sering terjadi dikalangan masyarakat. Menurut saya ini terjadi karena setiap manusia mempunyai keperibadian yang berbeda, manusia kembar sekalipun tidak memiliki kemampuan dan sifat yang sama. berikut dibawah ini merupakan penjelasan lebih terperinci mengenai tema pertentangan sosial dan integrasi masyarakat.

Pertentangan Sosial adalah suatu kegiatan  yang menentang ilmu – ilmu sosial yang biasanya terjadi karena kesalah pahaman. contoh pertentangan sosial adalah tauran, kerusuhan, perang antar suku dan banyak lagi. contoh yang paling sering kita lihat adalah tauran, tauran yang sering terjadi biasanya di dasari oleh keinginan berkuasa atas suatu tempat atau suatu barang bahkan orang.

PERBEDAAN KEPENTINGAN PRASANGKA DISKRIMINASI DAN ETHOSENTRIS

Kepentingan arti lainnya adalah sangat pelu, sangat utama (diutamakan), jadi pengertian kepentingan salah satunya adalah diutamakan.
dalam penjelasan Pasal 35 (c) UU No.16 Tahun 2004, kepentingan umum adalah kepentingan negara/bangsa dan masyarakat luas. Jadi kepentingan umum di sini harus diartikan sebagai kepentingan di semua aspek dalam bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat dalam arti yang seluas-luasnya dan yang menyangkut kepentingan hajat hidup masyarakat yang luas.

Prasangka dan diskriminasi merupakan dua hal yang ada relevansinya. Kedua tindakan tersebut dapat merugikan pertumbuhan, perkembangan dan bahkan integrasi masyarakat. Dari peristiwa kecil yang menyangkut dua orang dapat meluas dan menjalar, melibatkan sepuluh orang, golongan atau wilayah disertai yindakan kekerasan dan destruktif yang merugikan.
Prasangka mempunyai dasar pribadi, di mana setiap orang memilikinya, sejak masih kecil unsur sikap bermusuhan sudah tampak. Melalui proses belajar dan semakin besarnya manusia, membuat sikap cenderung untuk membeda-bedakan. Perbedaan yang secara sosial silaksanakan antar lembaga atau kelompok dapat menimbulkan prasangka melalui hubungan pribadi akan menjalar, bahkan melembaga (turun menurun) sehingga tidak heran apabila prasangka ada pada mereka yang tergolong cendekiawan, sarjana, pemimpin atau negarawan. Jadi prasangka pada dasarnya pribadi dan dimiliki bersama. Oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian dengan seksama, mengingat bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa atau masyarakat multi etnik.
Suatu hal yang saling berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminatif terhadap ras yang diprasangkainya. Tetapi dapat pula yang bertindak diskriminatif tanpa didasari prasangka, dan sebaliknya seorang yang berprasangka dapat saja bertindak tidak diskriminatif. Perbedaan terpokok antara prasangla dan diskriminatif ialah bahwa prasangka menunjuk pada aspek sikap sedangkan diskriminatif menunjuk pada tindakan. Menurut Morgan (1966) sikap ialah kecenderungan untuk berespons baik secara positif atau negatif terhadap orang, objek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui bila ia sudah bertindak atau bertingkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan.
Jadi prasangka merupakan kecenderungan yang tidak tampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan yang realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh individu masing-masing.

Etnosentris ( dalam bhs Indonesia ) adalah kecenderungan sikap Individu yang merasa cara hidup/ budaya mereka lebih superior dan beradab dari yang lainnya. Etnosentrisme yaitu suatu kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri sebagaai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan diepergunakan sebagai tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain. Etnosentrisme merupakan kecenderungan tak sadar untuk menginterpretasikan atau menilai kelompok lain dengan tolok ukur kebudayaannya sendiri.

PERTENTANGAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT (CONTOH KASUS)

Pertentangan adalah sutu hal yang dapat di artikan suatu konflik,yang di mana konflik ini memiliki suatu fakta yang bertabrakan berlawana dengan pihak lain yang akan menimbulkan suatu masalah yang pelik apabila konflik atau pertentangan ini tetap ada dan tanpa ada yang namanya perdamaian dari kedua belah pihak,karena apabila dalam suatu masalah yang terlalu lama di pendam dan di jalankan maka yang akan terkena imbas dari masalah ini adalah penerus kita sendiri karena pada saat penerus kita lahir ke bumi dia sudah memiliki konflik yang tanpa ia ketahui sebab dari konflik yang timbul,biasanya konflik yang timbul secara terus menerus dan tak akan terselesaikan adalah konflik keluarga,konflik keluarga biasanya terjadi kesalah pahaman yang menimbulkan pertentangan dari berbagai macam anggota keluarga yang membuat satu keluarga akan pecah dan tak akan pernah peduli satu sama lain ituah yang menyebabkan apabila penerus kita lahir dia akan di hadapkan oleh suatu masalah keluarga yang tak pernah ia ketahui,namun dalam masalah keluarga seperti ini cukup banyak cara untuk menyelesaikannya salah satunya adalah melakukan rapat keluarga yang di hadiri yang mempunyai maslah dan di hadiri orang yang menjadi pusat masalah dan jangan lupa menghadirkan semua anggota keluarga agar dapat member suatu masukan,saran dan pendapat yang baik untuk masalah keluarga yang sedang terjadi selain masukan dari anggota keluarga cara yang cukup ampuh yaitu adalah anggota keluarga yang memiliki masalah itu harus saling memahami,mengerti dan salin menghargai antar keluarga karena masalah keluarga yang timbul rata-rata adalah tidak adanya saling menghargai dan saling menaikan ego yang membuat salah satu anggota tidak dihargai dan merasa di rendahkan,selain maslah konflik keluarga disini ada berbagai macam konflik yang timbul dalam masyarakat contohnya adalah :

-SOSIAL

Konflik yang timbul pada masalah dalam aspek sosial ini biasanya terjadi Karena kurangnya pemikiran yang kurang baik salah satunya konflik sosial adalah perang antar mahasiswa yang di mana para mahasiswa ini terbentuk dalam suatu organisasi yang di mana organisasi tersebut kedalam bentuk sosial yang cukup tinggi karena sosial dapat di hubunhkan  dengan suatu perkumpulan yang erat dengan dan saling berhubungan,namun karena kurangnya suatu hal yang mungkin dapat menyebabkan suatu konflik yang cukup besar adalah kurangnya menghargai dan itu sering terjadi pada mahasiswa atau para pwelajar yang mungkin pola pikirnya masih ingin menyelesaikannya dengan adu tangguh yang sering kita lihat di televise dan rata-rata perang atau tawuran ini di akibatkan karena adany dendam lama yang terpendam dan mungkin tak akan selesai apabila hanya di lakukan dengan perang atau pertarungan,selain maslah suatu konflik yang terjadi karena status sosial,sebenarnya masalah sosial ini tak terlalu pelik hanya butuh saling terima saja namun banyak sekali pihak yang srlalu menganggap suatu status sosial amatlah penting dengan alas an yang mungkin ada yang kurang masuk akal dan tak mudah di jelaskan oleh pola pikir,contoh masalah status sosial adalh masalah derajat yang selalu di hubung-hubungkan dengan sosial,karena banyak sekali status sosial yang menurut orang yang punya derajat lebih tinggi itu yang setara dan sederajat itu lebih baik dari pada berhubungan dengan status yang derajatnya yang lebih rendah karena dengan alas an yang kurang paslah,kurang enaklah dan atau apalah masalah staus yang banyak sekali terjadi.

-PENDIDIKAN

Pendidikan mungkin konflik sosial yang cukup tinggi karena masih ada saja yang menganggap pendidikan itu adalah menentukan derajatnya bahkan ada yang menganggap seseorang yang hanya berpendidikan rendah tidak mampu untuk sukses dan berhasil dan bahkan tidak akan merasakan apa yang di rasakan oleh orang yang berpendidikan tinggi,namun semua itu salah karena dalam suatu kesuksesan bukanlah dilihat dari pendidikan namun di lihat dari bagaimana dia melakukan suatu hal yang mungkin akan membuat dia sukse,jadi jangan pernah mempunyai pemikiran kalau seseorang yang berpendidikan rendah itu tak berhak untuk sukses.

Individu

Setiap manusia di Bumi ini tidaklah sama, dalam arti memiliki pendirian, pendapat dan perasaan yang berbeda beda. oleh karena itulah perbedaan individu dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial.

kebudayaan

Antara budaya satu dengan budaya lainnya tentunya berbeda, hingga akhirnya akan terpengaruh oleh pemikiran dan budaya kelompoknya. perbedaan pemikiran atau pendirian itu pada akhirnya akan menjadi salahsatu penyebab adanya konflik sosial.

Kepentingan

Setiap manusia mempunyai kepentingan yang berbeda-beda, meskipun manusia mengerjakan hal yang sama tetapi dengan tujuan yang berbeda.
hal ini juga merupakan salahsatu faktor munculnya konflik dalam masyarakat atau sosial.

Contoh kasus: Gerakan radikalisme dan konflik sosial diprediksi masih akan terus terjadi pada tahun-tahun mendatang. Pada tahun 2012, pemerintah dan khususnya aparat keamanan, harus mewaspadai terjadinya aksi radikalisme yang terdiri dari konflik-konflik sosial dan kekerasan atas nama agama. Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Lazuari Birru, Dhyah Ruth, Jumat (3/2/2012) di Jakarta. Menurut Dhyah, radikalisme yang terkait dengan konflik-konflik sosial bersumber dari deprivasi ekonomi, yaitu perasaan terpinggirkan secara ekonomi. Selain itu, menurut Dhyah, karena adanya perasaan kalangan masyarakat yang teralienasi, yaitu perasaan terasing hidup di lingkungan sendiri. Lalu, adanya perasaan terancam dari kelompok masyarakat, yaitu perasaan bahwa posisinya dilemahkan atau tertekan. Kelompok radikal, kata Dhyah, berpotensi besar melakukan infiltrasi terhadap konflik-konflik sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Isu-isu marginalisasi, kesenjangan ekonomi, dan kemiskinan, tetap menjadi fokus kampanye kelompok radikal. Selain itu, pertentangan kelas juga menjadi isu yang sangat mudah dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu untuk menyulut kekerasan. Misalnya, buruh dengan pengusaha atau petani dengan pengusaha agrobisnis atau perkebunan. Dhyah mengungkapkan, dari survei indeks radikalisme Lazuardi Birru tahun 2011, kelompok pekerjaan petani, nelayan dan peternak memiliki indeks kerentanan tertinggi, yaitu 46,4. Kemudian, kelompok pengangguran memiliki skor indeks kerentanan 44,8, dan kelompok buruh dan pekerjaan serabutan mencapai 43.9. “Skor itu berada di atas titik aman, yaitu 33,3. Skor 0 menunjukkan tidak radikal dan skor 100 menunjukkan sangat radikal,” jelasnya.

DEFINISI INTEGRASI SOSIAL DAN INTEGRASI NASIONAL

Integrasi berasal dari bahasa inggris “intregration” yang berati kesempurnaan atau keseluruhan integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur – unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan mayarakat yang memiliki keserasian fungsi. Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan dimana kelompok – kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyrakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing – masing. integrasi memiliki 2 pengertian yaitu :
•    Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu.
•    Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur – unsur tertentu.
A. Integrasi Sosial

Integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur – unsur sosial atau kemasyarakatan.

Suatu integrasi sosial diperlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik berupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.

B. Integras Nasional

Istilah integrasi nasional berasal dari dua kata yaitu integrasi dan nasional. Istilah integrasi mempunya arti pembaruan/penyatuan sehingga menjadi kesatuan yang utuh/bulat. Istilah nasional mempunyai pengertian kebangsaan, bersifat bangsa sendiri, meliputi suatu bangsa seperti cita – cita nasional, tarian nasional, perusahaan nasional(kamus besar bahasa indonesia : 1989 dalam suhady 2006 : 36). Hal – hal yang menyangkut bangsa dapat berupa adat istiadat, suku, warna kulit, keturunan, agama, budaya, wilayah/daerah, dan sebagainya.

Sehubungan dengan penjelesan kedua istilah di atas maka integrasi nasional identik dengan integrasi bangsa yang mempunyai pengertian suatu proses penyatuan atau pembaruan berbagai aspek sosial budaya kedalam kesatuan wilayah dan pembukaan identitas nasional atau bangsa(kamus besar bahasa indonesia : 1989 dalam suhady 2006 : 36-37) yang harus dapat menjamin terwujudnya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam mencapai tujuan bersama sebagai suatu bangsa. Integrasi nasional sebagai suatu konsep dalam kaitan dengan wawasan kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berlandaskan pada aliran pemikiran/paham integralistik yang dicetuskan oleh G.W.F Hegl (1770-1831 dalam suhady 2006:38) yang berhubungan dengan paham idealisme untuk mengenal dan memahami sesuatu harus dicari kaitannya dengan yang lain dan untuk mengenal manusia harus dicari dikaitkan dengan yang lain dan untuk mengenal manusia harus dikaitkan dengan masyarakat di sekitarnya dan untuk mengenal suatu masyarakat harus dicari kaitannya dengan proses multikulturalisme.

CONTOH KASUS INTEGRASI SOSISAL DAN INTEGRASI NASIONAL

Integrasi Nasional: Mengindonesiakan Keberagaman Bangsa

Indonesia merupakan negara dengan kemajemukan bangsa yang ada di dalamnya. Hal tersebut telah tergambar jelas dari struktur masyarakatnya yang heterogen. Dari heterogenitas itulah, kemajemukan muncul sebagai cerminan dari adanya keberagaman suku, ras, agama, budaya, dan lain-lain. Jika muncul pertanyaan terhadap keberagaman tersebut, apakah alami atau merupakan konstruksi masyarakat, maka jawabannya adalah “realita”. Hal tersebut disebabkan karena adanya pemaknaan atas keberagaman itu yang sewaktu-waktu dapat bergeser.

Secara alami, memang keberagaman tersebut merupakan suatu hal yang dapat dikatakan sebagai warisan atau turun-temurun adanya. Akan tetapi, masyarakat di sini juga berperan dalam mengkonstruksi keberagaman itu sendiri. Artinya, masyarakat juga mempunyai peran dalam jalannya keberagaman tersebut sehingga mempengaruhi kondisi kemajemukan bangsa. Kondisi kemajemukan bangsa yang seharusnya didampingi dengan nilai-nilai toleransi, dapat dinodai dengan adanya sterotip-streotip yang mencederai kemajemukan bangsa ini. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dalam memaknai keberagaman ini dengan nilai-nilai toleransi.

Pada suatu kelas, terdapat mayoritas siswanya beragama muslim dan minoritasnya beragama non-muslim. Jika yang beragama mulsim sedang mengikuti pelajaran agamanya, maka yang beragama non-muslim diberikan toleransi untuk tidak mengikuti pelajaran agama tersebut dan begitu juga sebaliknya. Begitu juga dalam konteks kehidupan masyarakat yang pluralistik. Perbedaan-perbedaan yang muncul harus dijadikan sebagai suatu keberagaman yang dilandasi oleh nilai-nilai toleransi. Jadi, dari pemahaman masyarakat tentang bertoleransi itulah yang dapat menimbulkan suatu integrasi dalam masyarakat.

Berkaca dari beberapa contoh kasus dewasa ini, penyebab yang mengancam integrasi nasional bangsa ini sebenarnya adalah dari kesadaran atas pemahaman dari keberagaman bangsa itu sendiri. Kondisi yang majemuk seperti ini seolah dimaknai sempit oleh beberapa kelompok masyarakat. Hal tersebut terwujud dari tindakan-tindakan yang mengarah kepada gerakan seperatis yang mengancam keutuhan bangsa. Negara Islam Indonesia (NII), Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan, serta pengibaran bendera Aceh yang akhir-akhir ini baru saja terjadi, merupakan beberapa wujud tindakan yang mengancam integrasi nasional negara ini. Jika dilihat dari segi sosiologis, konflik-konflik seperti ini muncul karena adanya beberapa faktor yang melandasi. Di antaranya adanya berbagai kepentingan politikdari tiap-tiap gerakan itu sendiri. Selain itu, kecemburuan sosial terhadap perlakuan pemerintah atauinstitusi juga dapat mendasari hal itu. Selanjutnya, adanya solidaritas di dalam kelompok yang lebih kuat daripada solidaritas kebangsaannya, memungkinkan munculnya sikap yang mengarah ke dalam disintegrasitersebut. Itulah sebabnya mengapa integrasi nasional bangsa ini sedang dalam ancaman.

Dari beberapa contoh kasus di atas, konsep dari suatu bangsa yang majemuk, telah disalahartikan maknanya oleh beberapa kelompok masyarakat. Suatu kesatuan yang seharusnya difasilitasi oleh sikap toleransi, malah diartikan sebagai fasilitas kepentingan dalam solidaritas kelompok-kelompok. Akibatnya, pemaknaan atas keberagaman yang seharusnya disesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia yangmultikultur, menjadi pemaknaan atas suatu tindakan penyeragaman bangsa Indonesia. Selain itu, yang juga seharusnya dimaknai bahwa Indonesia negara yang terbagi atas suku bangsa, agama, ras, dan lainnya, menjadi suatu pemaknaan adanya pembagian wilayah Indonesia yang tidak berintegrasi dalam suatu kesatuan. Oleh karena itu, pemikiran yang keliru tersebut ingin menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang seragam dan terpecah belah.

Dengan contoh munculnya gerakan Negara Islam Indonesia (NII) telah membuktikan bahwa adanya keinginan yang kuat untuk menjadikan negara Indonesia menjadi negara yang islami. Artinya, keinginan kuat itulah yang ingin menjadikan negara ini menjadi negara yang tadinya beranekaragam ataumultikultur, menjadi suatu negara yang seragam. Selain itu, gerakan separatis seperti OPM dan RMS juga merupakan dampak dari pemaknaan yang keliru. Jika pemaknaan atas Islam sebagai suatu agama dimaknai dengan mengindonesiakan Islam, maka nilai-nilai agama Islam di dalamnya dapat disesuaikan dengan perbedaan-perbedaan atas keberagaman yang ada pada bangsa Indonesia, tentu tanpa mencederai makna atas agama Islam itu sendiri. Dengan demikian, nilai-nilai toleransi dalam beragama dapat terbangun sehingga pemaknaan atas hal tersebut yang keliru tersebut dapat dihindari.

Dalam persoalan ini, integrasi memang memerlukan perhatian penting, khususnya atas pemahaman atau penafsiran atas keberagaman bangsa Indonesia. Jika diibaratkan, kondisi tersebut seperti seorang anak yang sedang diajarkan mengenali anggota keluarganya. Kondisi anak yang sebelumnya belum mengetahui siapa ayah, ibu, ataupun kakak dan adiknya, setelah diajarkan maka anak tersebut mengenali dan mencoba untuk menyapa anggota keluarganya tersebut. Hal itu juga yang diperlukan untuk meluruskan pemaknaan atas keberagaman bangsa. Dimulai dari mengenal siapa dirinya dan bangsanya serta kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Persoalan integrasi memang merupakan suatu hal yang mendasar dan kompleks. Jika dilihat dalam pendekatan struktural fungsional, memang dapat diakatakan bahwa integrasi merupakan suatu sistemyang saling berkesinambungan. Akan tetapi, jika dilihat dalam pendekatan konflik, maka integrasi dapat dimunculkan dari adanya pertentangan-pertentangan, baik di dalam maupun di luar kelompok. Sekarang tinggal bagaimana mencoba untuk meminimalisasi konflik yang ada. Salah satunya adalah proses penyadaran atas makna dari integrasi dalam keberagaman bangsa ini. Dengan demikian, jika hal tersebut dapat tersosialisasi dengan baik, maka bukan tidak mungkin suatu gerakan-gerakan separatis yang mengancam integrasi nasional bangsa ini tidak akan muncul sehingga integrasi nasional menjadi suatu makna abadi yang tersampaikan.

  1. ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN

PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia . Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode  yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari istemologepi.

4 HAL SIKAP YANG ILMIAH

4 Hal Sikap yang Ilmiah, yaitu:

Sikap ilmiah adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap ilmuwan dalam melakukan tugasnya (memelajari, meneruskan, menolak/menerima serta mengubah/menambah suatu ilmu). Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :

Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif .
Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.

Beberapa sikap ilmiah lainnya dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara lain :

Sikap ingin tahu : apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiea; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
Sikap kritis : Tidak langsung begitu saja menerima kesimpulan tanpa ada bukti yang kuat, kebiasaan menggunakan bukti – bukti pada waktu menarik kesimpulan; Tidak merasa paling benar yang harus diikuti oleh orang lain; bersedia mengubah pendapatnya berdasarkan bukti-bukti yang kuat.
Sikap obyektif : Melihat sesuatu sebagaimana adanya obyek itu, menjauhkan bias pribadi dan tidak dikuasai oleh pikirannya sendiri. Dengan kata lain mereka dapat mengatakan secara jujur dan menjauhkan kepentingan dirinya sebagai subjek.
Sikap ingin menemukan : Selalu memberikan saran-saran untuk eksprimen baru; kebiasaan menggunakan eksprimen-eksprimen dengan cara yang baik dan konstruktif; selalu memberikan konsultasi yang baru dari pengamatan yang dilakukannya. Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
Sikap tekun : Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
Sikap terbuka : Bersedia mendengarkan argumen orang lain sekalipun berbeda dengan apa yang diketahuinya.buka menerima kritikan dan respon negatif terhadap pendapatnya.

Lebih rinci lagi Diederich mengidentifikasikan 20 komponen sikap ilmiah yakni sebagai berikut:

Selalu meragukan sesuatu.
Percaya akan kemungkinan penyelesaian masalah.
Selalu menginginkan adanya verifikasi eksprimental.
T e k u n.
Suka pada sesuatu yang baru.
Mudah mengubah pendapat atau opini.
Loyal etrhadap kebenaran.
Objektif
Enggan mempercayai takhyul.
Menyukai penjelasan ilmiah.
Selalu berusaha melengkapi penegathuan yang dimilikinya.
Tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Dapat membedakan antara hipotesis dan solusi.
Menyadari perlunya asumsi.
Pendapatnya bersifat fundamental.
Menghargai struktur teoritis
Menghargai kuantifikasi
Dapat menerima penegrtian kebolehjadian dan,
Dapat menerima pengertian generalisasi

PENGERTIAN TEKNOLOGI

Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri.

Sebagian beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. namun, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.

CIRI-CIRI FENOMENA TEKNIK DALAM MASYARAKAT

Menurut Sastrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Rasionalistas, artinya tindakan yang spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional.

2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan atau tidak alamiah.

3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan secara otomatis.

4. Teknik berkembang pada suatu kebudayaan.

5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung.

6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan idiologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan.

7. Otonomi artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.

CIRI-CIRI TEKNOLOGI BERAT

1. Serba intensif dalam segala hal, seperti modal, organisasi, tenaga kerja dan lain-lain, sehingga lebih akrab dengan kaum elit daripada dengan buruh itu sendiri.

2. Dalam struktur sosial, teknologi barat bersifat melestarikan sifat kebergantungan.

3. Kosmologi atau pandangan teknologi Barat adalah: menganggap dirinya sebagai pusat yang lain.

PENGERTIAN KEMISKINAN

Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh (Emil Salim, 1982).

CIRI-CIRI MANUSIA YANG HIDUP DIBAWAH GARIS KEMISKINAN

1. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, ketrampilan, dll.

2. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usah.

3. Tingkat pendidikan yang rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan.

4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas (serabutan) berusaha apa saja.

5.  Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai ketrampilan.

FUNGSI KEMISKINAN

Menurut teori Fungsionalis dari Statifikasi (tokohnya Davis), kemiskinan memiliki sejumlah fungsi yaitu:

1. Fungsi Ekonomi

Penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu menimbulkan dana sosial, membuka lapangan kerja baru dan memanfaatkan barang bekas (masyarakat pemulung).

2. Fungsi Sosial

Menimbulkan altruisme (kebaikan spontan) dan perasaan, sumber imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi kelas lain dan merangsang munculnya badan amal.

3. Fungsi Kultural

Sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama manusia.

4. Fungsi Politik

Berfungsi sebagai kelompok gelisan atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok lain.

Walaupun kemiskinan mempunyai fungsi, bukan berarti menyetujui lembaga tersebut. Tetapi karena kemiskinan berfungsi maka harus dicarikan fungsi lain sebagai pengganti.

  1. AGAMA DAN MASYARAKAT

Pengertian Agama

Agama berasal dari bahasa sansekerta “agama” yang berarti tradisi sedangkan dari kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti mengikat kembali, yang maksudnya adalah dengan religi seseorang mengikat dirinya dengan Tuhan. Menurut kamus besar bahasa Indonesiaagama merupakan system atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan.

FUNGSI AGAMA DALAM MASYARAKAT

Fungsi agama ialah sebagai pedoman hidup, agama mmpunyai ketentuan hidup yang baik di dunia. Sedangkan fungsi agama dalam masyarakat ialah Sebagai sarana komunikasi antar umat beragama untuk bertukar pikiran secara positif.

DIMENSI PELEMBAGGAAN AGAMA

Ada 3 tipe kaitan agama dengan masyarakat, diantaranya :

Masyarakat dan nilai-nilai sakral.

Masyarakat-masyarakat pra industri yang sedang berkembang.

Masyarakat-masyarakat industri sekuler.

Pengertian pelembagaan agama itu sendiri ialah apa dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsi struktur agama. Dimensi ini mengidentifikasikan pengaruh-pengaruh kepercayaan di dalam kehidupan sehari-hari. Dimensi Komitmen Agama

Menurut Roland Robertson :

Dimensi keyakinan mengandung perkiraan/harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu.

Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan berbakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata.

Dimensi pengerahuan, dikaitkan dengan perkiraan.

Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, semua agama mempunyai perkiraan tertentu.

Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan.

3 TIPE KAITAN AGAMA DENGAN MASYARAKAT

Agama, Konflik dan Masyarakat
Secara sosiologis, Masyarakat agama adalah suatu kenyataan bahwa kita adalah berbeda-beda, beragam dan plural dalam hal beragama. Ini adalah kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri lagi. Dalam kenyataan sosial, kita telah memeluk agama yang berbeda-beda. Pengakuan terhadap adanya pluralisme agama secara sosiologis ini merupakan pluralisme yang paling sederhana, karena pengakuan ini tidak berarti mengizinkan pengakuan terhadap kebenaran teologi atau bahkan etika dari agama lain. Sebagaimana yang dikemukakan oleh M. Rasjidi bahwa agama adalah masalah yang tidak dapat ditawar-tawar, apalagi berganti. Ia mengibaratkan agama bukan seperti rumah atau pakaian yang kalau perlu dapat diganti. Jika seseorang memeluk keyakinan, maka keyakinan itu tidak dapat pisah darinya. Berdasarkan keyakinan inilah, menurut Rasjidi, umat beragama sulit berbicara objektif dalam soal keagamaan, karena manusia dalam keadaan terlibat. Sebagai seorang muslim misalnya, ia menyadari sepenuhnya bahwa ia terlibat dengan Islam. Namun, Rasjidi mengakui bahwa dalam kenyataan sejarah masyarakat adalah multi-complex yang mengandung religious pluralism, bermacam-macam agama. Hal ini adalah realitas, karena itu mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri, dengan mengakui adanya religious pluralism dalam masyarakat Indonesia.

CONTOH KONFLIK AGAMA DALAM MASYARAKAT

Banyak konflik yang terjadi di masyarakat Indonesia disebabkan oleh pertikaian karena agama. Contohnya tekanan terhadap kaum minoritas (kelompok agama tertentu yang dianggap sesat, seperti Ahmadiyah) memicu tindakan kekerasan yang bahkan dianggap melanggar Hak Asasi Manusia. Selain itu, tindakan kekerasan juga terjadi kepada perempuan, dengan menempatkan tubuh perempuan sebagai objek yang dianggap dapat merusak moral masyarakat. Kemudian juga terjadi kasus-kasus perusakan tempat ibadah atau demonstrasi menentang didirikannya sebuah rumah ibadah di beberapa tempat di Indonesia, yang mana tempat itu lebih didominasi oleh kelompok agama tertentu sehingga kelompok agama minoritas tidak mendapatkan hak.

Permasalah konflik dan tindakan kekerasan ini kemudian mengarah kepada pertanyaan mengenai kebebasan memeluk agama serta menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan tersebut. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam UUD 1945, pasal 29 Ayat 2, sudah jelas dinyatakan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam memeluk agama dan akan mendapat perlindungan dari negara.

Pada awal era Reformasi, lahir kebijakan nasional yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia. Namun secara perlahan politik hukum kebijakan keagamaan di negeri ini mulai bergeser kepada ketentuan yang secara langsung membatasi kebebasan beragama. Kondisi ini kemudian menyebabkan terulangnya kondisi yang mendorong menguatnya pemanfaatan kebijakan-kebijakan keagamaan pada masa lampau yag secara substansial bertentangan dengan pasal HAM dan konstitusi di Indonesia.

 

Sumber :

http://ameliaachlaqulkarimah.blogspot.com/2012/12/pertentangan-sosial-dan-integrasi.html http://ratyhkusdew.blogspot.com/2011/12/perbedaan-kepentingan-prasangka.html http://adriandro.blogspot.com/2013/01/pertentangan-dan-konflik-sosial-dalam.html http://noris-iskandar.blogspot.com/2012/01/integrasi-sosial-dan-integrasi-nasional.html http://pensosreg12.blogspot.com/2013/09/integrasi-nasional-mengindonesiakan.html http://tugasteknikmesin.blogspot.com/2011/12/definisi-ilmu-pengetahuan.html http://ciptadestiara.wordpress.com/category/ciri-ciri-fenomena-teknik/ http://mfaisalkemal.wordpress.com/2012/12/24/ilmu-pengetahuan-teknologi-dan-kemiskinan-serta-agama-dan-masyarakat/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s